DetailNews.id, Balikpapan – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) merampungkan proyek pengembangan Sisi Nubi Area of Interest (SNB AOI) 1-3-5. Proyek ini ditandai dengan beroperasinya platform terakhir, WPN-5, pada 24 Agustus 2026.
Beroperasinya WPN-5 sekaligus mengawali produksi Sumur NB-501. Setelah melalui proses peningkatan produksi secara bertahap atau ramp up, sumur tersebut mampu menghasilkan gas hingga 6,12 juta standar kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/mmscfd).
Penyelesaian proyek ini menjadi bagian dari upaya PHM menjaga produksi gas di Wilayah Kerja (WK) Mahakam yang telah memasuki fase mature. Tambahan produksi tersebut diharapkan ikut memperkuat keberlanjutan pasokan gas untuk kebutuhan energi nasional.
Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), Muharram Jaya Panguriseng, mengatakan penyelesaian proyek SNB AOI 1-3-5 menunjukkan komitmen Pertamina untuk terus mengembangkan lapangan migas di Indonesia.
“Di PHI, kami terus berinvestasi dalam pengembangan lapangan migas, seperti pada proyek PHM SNB AOI 1-3-5. Hal ini sejalan dengan visi dan misi perusahaan, serta komitmen PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dan PT Pertamina (Persero) selaku subholding upstream dan holding untuk menyediakan energi yang berkelanjutan bagi Indonesia,” kata Muharram.
Menurutnya, keberhasilan proyek tersebut tidak terlepas dari penerapan teknologi, inovasi, budaya keselamatan, serta kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Pencapaian ini menunjukkan bahwa penerapan teknologi dan inovasi, didukung budaya keselamatan serta kolaborasi yang kuat, dapat menghasilkan proyek yang andal untuk mendukung ketahanan energi nasional,” ujarnya.
Meski seluruh platform dalam proyek SNB AOI 1-3-5 telah beroperasi, PHM masih melanjutkan pengembangan sumur lainnya.
Saat ini, tim Well Intervention tengah mengerjakan Sumur NB-502. Salah satu tahap yang dilakukan adalah pemasangan sand screen untuk mengendalikan pasir dari formasi dan menjaga keandalan produksi.
Setelah proses tersebut selesai, Sumur NB-502 akan memasuki tahap Put on Production (POP). Tingkat produksinya akan disesuaikan dengan prognosis serta batas operasi mechanical screen agar produksi berjalan aman dan optimal.
WPN-5 merupakan platform keenam sekaligus terakhir dalam proyek SNB AOI 1-3-5. Sebelumnya, PHM telah mengoperasikan lima platform lainnya. WPS-4 mulai beroperasi pada 4 Desember 2025, disusul WPS-5 pada 21 Februari 2026, WPN-7 pada 23 Maret 2026, WPN-6 pada 5 Juni 2026, dan WPN-8 pada 5 Juli 2026.
Dengan beroperasinya enam platform tersebut, rangkaian fasilitas produksi dalam pengembangan SNB AOI 1-3-5 di Lapangan Sisi Nubi kini telah lengkap.
Proyek ini mencakup pembangunan enam jacket, enam topside, tiga extension platform, 18 riser, serta sekitar 22 kilometer pipa bawah laut. Dalam pengerjaannya, proyek tersebut menggunakan sekitar 11 ribu metrik ton baja.
PHM juga menerapkan teknologi Suction Pile Foundation dalam pembangunan fasilitas lepas pantai tersebut.
Teknologi ini digunakan untuk memasang fondasi baja ke dasar laut dengan memanfaatkan tekanan. Penerapannya membantu mempercepat proses instalasi sekaligus menjaga keandalan struktur.
Salah satu hasilnya adalah waktu pemasangan jacket yang dapat dipangkas dari sekitar dua minggu menjadi hanya lima hari.
Meski proses instalasi dipercepat, PHM tetap menempatkan aspek keselamatan dan kualitas sebagai bagian utama dalam pelaksanaan proyek.
Bagi perusahaan, keberhasilan proyek tidak hanya diukur dari selesainya pembangunan fasilitas. Keandalan operasi, keselamatan kerja, serta keekonomian investasi juga menjadi bagian penting dari pencapaian proyek.
Selain menambah produksi gas, proyek SNB AOI 1-3-5 juga memberikan dampak ekonomi bagi daerah dan industri nasional.
Keterlibatan tenaga kerja lokal, penggunaan industri dalam negeri, hingga peningkatan kemampuan nasional dalam mengerjakan proyek pengembangan lapangan migas yang kompleks menjadi bagian dari dampak berganda proyek tersebut.
PHM menilai pengembangan SNB AOI 1-3-5 menjadi langkah penting untuk mempertahankan produksi gas WK Mahakam sekaligus mendukung kebutuhan energi Indonesia dalam jangka panjang.
Peliput: Raden




