DetailNews.id, Tarakan – Dampak fenomena El Niño yang memicu kekeringan di berbagai wilayah dunia mulai dirasakan di sejumlah daerah di Indonesia. Meski sejumlah wilayah menghadapi krisis air bersih, pasokan air minum di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, disebut masih relatif aman.
Direktur Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Alam Tarakan, Iwan Setiawan, S.Pd., M.M., M.H., mengatakan kondisi sumber air baku di Tarakan memang mengalami penurunan akibat berkurangnya curah hujan. Namun, kondisi tersebut belum sampai mengganggu seluruh sistem pelayanan air bersih kepada masyarakat.
Menurut Iwan, dampak El Niño pada 2026 turut dirasakan di berbagai negara hingga daerah di Indonesia. Sejumlah wilayah bahkan mengalami penurunan debit air yang berdampak pada operasional instalasi pengolahan air.
Dia mencontohkan kondisi Sungai Rhine di Eropa yang mengalami penurunan debit air, hingga berdampak pada transportasi dan sektor energi. Sementara di Indonesia, penyusutan air di Bendungan Bili-Bili, Sulawesi Selatan, turut mengancam pasokan air bagi pelanggan PDAM Makassar.
Kondisi serupa juga terjadi di Samarinda, Kalimantan Timur, yang menghadapi persoalan intrusi air laut di Sungai Mahakam.
“Kalau melihat kondisi global dan beberapa daerah di Indonesia, dampak El Niño cukup berat. Di Tarakan, memang ada penurunan curah hujan yang membuat pengisian embung dan bendungan tidak optimal. Namun, secara umum pelayanan air minum masih bisa bertahan,” ujar Iwan.
Dia menjelaskan, dari enam Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang dimiliki PDAM Tirta Alam Tarakan, tiga di antaranya mengalami dampak penurunan pasokan air baku. Ketiga IPA tersebut yakni IPA Persemaian, IPA Kampung Satu, dan IPA Kampung Bugis.
Sementara tiga IPA lainnya, yaitu IPA Juata Laut, IPA Bengawan, dan IPA Indulung, masih beroperasi normal untuk menjaga pasokan air kepada masyarakat.
“Memang ada tiga unit IPA yang terdampak, tetapi tiga unit lainnya masih beroperasi secara normal. Ini yang kami upayakan agar pelayanan kepada masyarakat tetap terjaga,” jelasnya.
Berdasarkan data operasional PDAM Tirta Alam Tarakan, kondisi paling signifikan terjadi di Embung dan Sungai Persemaian yang saat ini mengalami kekeringan sehingga pasokan air baku terhenti.
Adapun Bendungan Binalatung di Kampung Satu mengalami penurunan level air hingga 174 sentimeter. Debit pasokan yang sebelumnya mencapai 180 liter per detik kini menyusut menjadi 60 liter per detik.

Di sisi lain, sejumlah sumber air baku masih berada dalam kondisi relatif aman. Di antaranya Embung Rawasari, Sungai Sesanip, Embung Indulung, Embung Bengawan, dan Sungai Semunti.
PDAM Tarakan Siapkan Langkah Mitigasi
Mengantisipasi kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang, PDAM Tirta Alam Tarakan menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga ketersediaan air bersih.
Salah satunya dengan mengoptimalkan sumber air baku yang masih tersedia. PDAM juga memfungsikan pompa cadangan di Embung Indulung untuk membantu meningkatkan pasokan air menuju IPA Kampung Satu.
Selain itu, sistem pengaliran air turut diatur menyesuaikan kapasitas produksi harian agar distribusi air tetap dapat menjangkau pelanggan.
PDAM juga menyiapkan distribusi air bersih menggunakan mobil tangki untuk membantu masyarakat di kawasan permukiman maupun fasilitas publik yang membutuhkan.
Iwan mengatakan, kesiapan infrastruktur dan langkah mitigasi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas pelayanan di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu. Meski demikian, dia mengimbau masyarakat Tarakan agar tetap bijak dalam menggunakan air bersih selama musim kemarau.
“Kami terus berupaya menjaga agar pelayanan tetap berjalan. Kami juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak dan tidak berlebihan, sehingga ketersediaan air bersih bisa tetap terjaga,” pungkasnya.
Peliput: Raden




