DetailNews.id, Tarakan – Suasana haru menyelimuti halaman SMP Negeri 7 Tarakan, Sabtu (23/5/2026). Tangis siswa dan orang tua pecah dalam prosesi pelepasan 278 siswa kelas IX tahun ajaran 2025/2026 yang berlangsung penuh makna.
Momen emosional terlihat saat para siswa berjalan menghampiri orang tua masing-masing diiringi lagu Terima Kasihku. Satu per satu siswa memeluk ayah dan ibu mereka sambil menyerahkan setangkai bunga sebagai simbol cinta dan terima kasih atas perjuangan selama ini.
Tak sedikit orang tua yang ikut larut dalam suasana, membalas pelukan anak-anak mereka dengan mata berkaca-kaca. Isak tangis pun pecah di sejumlah sudut halaman sekolah.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pelepasan siswa SMPN 7 Tarakan kali ini mengangkat budaya Bugis sebagai tema utama. Seluruh siswa, guru, orang tua hingga tamu undangan tampil kompak mengenakan pakaian adat Bugis berwarna-warni.
Acara dibuka dengan prosesi adat Sompe, ritual khas Bugis yang sarat makna dan doa bagi para siswa yang akan melanjutkan perjalanan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Kepala SMP Negeri 7 Tarakan, Budi Setyaning mengatakan tema budaya sengaja berganti setiap tahun sebagai upaya mengenalkan keberagaman budaya Indonesia kepada para siswa.
“Tahun ini kami mengangkat budaya Bugis. Sebelumnya kami pernah mengangkat budaya Jawa dan Tidung. Ini sudah ketiga kalinya kami mengangkat tema budaya berbeda,” ujar Budi.
Menurutnya, pengenalan budaya tersebut penting agar generasi muda tetap mengenal akar budaya di tengah perkembangan zaman.
“Budaya sekarang mulai pudar. Kami ingin memperkenalkan kembali seperti ini Bugis, seperti ini Jawa, seperti ini Tidung. Jadi anak-anak tetap bangga dengan suku mereka masing-masing,” katanya.
Budi menjelaskan, prosesi Sompe memiliki filosofi mendalam tentang perjuangan meraih cita-cita. Dalam tradisi Bugis, Sompe dimaknai sebagai perjalanan atau merantau menuju masa depan dengan semangat pantang menyerah.
“Artinya anak-anak yang mengejar impian dan cita-cita jangan pulang sebelum berhasil. Mereka harus tetap semangat berjuang,” jelasnya.
Ia juga menitipkan pesan kepada 277 siswa dari sembilan rombongan belajar (rombel) yang dilepas tahun ini agar tetap menjaga identitas, adab, dan sopan santun di mana pun berada.
“Jadilah diri sendiri saat berada di negeri orang. Jangan lupa asal-usul dan tetap jaga etika, adab, serta belajar sungguh-sungguh,” pesannya.
Usai prosesi adat, acara dilanjutkan dengan pengalungan medali kelulusan yang dilakukan Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Thamrin Toha, didampingi Komite Sekolah sekaligus Ketua Komisi II DPRD Tarakan, Simon Patino, bersama Kepala SMPN 7 Tarakan.
Suasana haru kemudian mencair lewat penampilan seni para siswa. Beragam tarian daerah ditampilkan, mulai dari Tari Ngusur hingga tarian khas Bugis seperti Indo Logo dan Angin Mamiri, sebelum ditutup dengan Tari Nusantara sebagai simbol persatuan.
Di sisi lain, perwakilan siswa kelas IX sekaligus Ketua OSIS periode 2024-2025, Fitri Rahmadani, turut menyampaikan kesan mendalam mewakili rekan-rekannya.
Dengan suara bergetar, Fitri mengenang perjalanan tiga tahun mereka di sekolah, mulai dari masa orientasi, pergantian kelas, hingga akhirnya tumbuh bersama dalam kebersamaan.
“Awalnya kita tidak saling mengenal, tapi waktu demi waktu kita menjadi dekat. Walaupun sempat dipisahkan karena sistem rolling kelas, akhirnya kami punya lebih banyak teman,” ucap Fitri.
Di akhir sambutannya, ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada para guru atas kesalahan yang pernah dilakukan selama masa sekolah sekaligus ucapan terima kasih atas bimbingan yang diberikan.
Acara pelepasan ditutup dengan sesi foto bersama guru, siswa, dan orang tua. Meski acara telah selesai, suasana haru masih terasa dari pelukan hangat dan mata sembap para siswa yang bersiap menapaki babak baru setelah lulus dari SMP.
Peliput: Raden





