DetailNews.id, Jombang– Suasana Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) mendadak hening saat sebuah tongkat kayu dan tasbih tua dikeluarkan dari pembungkusnya. Dua benda bersejarah itu kemudian diserahkan kepada Ketua Tanfidziyah PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.
Estafet Tongkat Komando Dari Syaikhona Kholil hingga Gus Kikin: Momen penyerahan kembali simbol spiritual Nahdlatul Ulama oleh Dzurriyah Kiai As’ad Syamsul Arifin merawat sanad sejarah yang berusia seabad.
Tongkat dan tasbih tersebut diserahkan KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Prosesi itu bukan sekadar simbol serah terima, tetapi menjadi penanda kesinambungan sanad spiritual dan sejarah perjuangan NU.
Tongkat dan tasbih tersebut merupakan warisan Syaikhona Kholil Bangkalan yang dahulu dikirimkan kepada KH Hasyim Asy’ari melalui KH As’ad Syamsul Arifin pada sekitar 1924-1925.
“Tongkat dan tasbih ini adalah sanad isyarah spiritual. Menyerahkannya kembali kepada pemegang mandat kepemimpinan NU hari ini adalah pesan agar jam’iyyah ini tidak pernah lepas dari akar sejarah dan spiritualitas para pendirinya,” ujar KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, Senin (31/8/26).
Kisah Tongkat Syaikhona Kholil
Secara historis, tongkat tersebut berkaitan erat dengan proses lahirnya NU. Pada 1924, Kiai As’ad yang saat itu masih menjadi santri Syaikhona Kholil diutus berjalan kaki menuju Tebuireng, Jombang.
Ia membawa sebatang tongkat untuk diserahkan kepada KH Hasyim Asy’ari. Saat bertemu, As’ad muda menyampaikan ayat Al-Qur’an dari Surah Thaha ayat 17-23 yang berkisah tentang tongkat Nabi Musa AS.
KH Hasyim Asy’ari disebut memahami pesan tersebut sebagai isyarat dan restu dari gurunya untuk mendirikan wadah perjuangan ulama.
Setahun kemudian, sekitar pertengahan 1925, Kiai As’ad kembali mendapat tugas. Kali ini ia diminta mengantarkan tasbih beserta amalan zikir Asmaul Husna, “Ya Jabbar, Ya Qohhar”.
Tasbih tersebut dibawa dalam perjalanan dengan penuh kehati-hatian sebagai bentuk kepatuhan seorang santri kepada gurunya. Dua benda itu kemudian menjadi bagian penting dari simbol spiritual perjalanan Nahdlatul Ulama.
Tongkat dimaknai sebagai simbol ketegasan syariat dan kepemimpinan. Sementara tasbih menjadi simbol kedalaman tasawuf, zikir, serta ketahanan spiritual.
Pesan untuk NU di Abad Kedua
Penyerahan kembali tongkat dan tasbih dalam arena Muktamar NU dinilai memiliki pesan kuat bagi perjalanan organisasi memasuki abad keduanya.
Gus Kikin sebagai penerima amanah dipandang melanjutkan mata rantai kepemimpinan yang tidak hanya bertumpu pada struktur organisasi, tetapi juga menjaga hubungan sanad keilmuan dan spiritual para pendiri NU.
“Tongkat adalah simbol ketegasan syariat dan kepemimpinan, sedangkan tasbih adalah pondasi zikir dan keheningan batin. Tanpa keduanya, NU hanya akan menjadi jam’iyyah yang kehilangan ruh spiritualnya,” demikian pesan yang disampaikan dalam prosesi tersebut.
Penyerahan tongkat dan tasbih itu sekaligus menjadi pengingat bahwa modernisasi organisasi tidak boleh memutus akar sejarah. Bagi Nahdliyin, kepemimpinan NU diharapkan tetap berjalan dalam koridor tradisi, sanad keilmuan, zikir, serta amanah para ulama pendahulu.
Peliput: Raden




