DetailNews.id, Jakarta — Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) RI Afriansyah Noor membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) 2026 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Rabu (26/8/2026).
Rakernas KSBSI yang berlangsung 26–28 Agustus 2026 ini mengusung tema “Membangun Daya Saing Buruh Indonesia di Tengah Perubahan Regulasi Ekonomi Global.”
Kegiatan tersebut dihadiri Presiden DEN KSBSI Elly Rosita Silaban, Direktur Internasional Labour Organisation (ILO) Indonesia-Timor Leste Mrs. Sriming Sing, Ketua Dewas BPJS Ketenagakerjaan Dedi Hardianto, SH, Ketua Umum APINDO Shinta Widjaja Kamdani, jajaran Kementerian Ketenagakerjaan, pimpinan konfederasi sahabat, 13 Federasi afiliasi KSBSI serta Korwil KSBSI dari seluruh Indonesia.
Dalam sambutannya, Afriansyah mengatakan tema yang diangkat KSBSI sangat relevan dengan kondisi dunia kerja saat ini. Perkembangan teknologi, digitalisasi, otomatisasi, perubahan rantai pasok global, ekonomi hijau hingga dinamika regulasi ekonomi internasional menuntut pekerja Indonesia untuk terus beradaptasi.
Menurutnya, serikat buruh/pekerja tidak hanya memiliki fungsi memperjuangkan hak dan kepentingan buruh, tetapi juga mempunyai posisi strategis dalam membangun kualitas sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.
“Serikat pekerja atau serikat buruh tidak hanya berperan dalam memperjuangkan hak dan kepentingan buruh atau pekerja saja, tetapi juga dapat menjadi mitra strategis pemerintah dan dunia usaha dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing,” kata Afriansyah.
Ia juga menegaskan pemerintah terus membuka ruang dialog dan kemitraan dengan seluruh elemen ketenagakerjaan.
Menurut Afriansyah, kritik, masukan dan gagasan konstruktif dari serikat pekerja sangat dibutuhkan dalam penyusunan kebijakan ketenagakerjaan yang mampu menjawab kebutuhan pekerja sekaligus menjaga keberlanjutan dunia usaha.
“Pemerintah mendengar, memahami, dan menyambut baik urgensi aspirasi ini,” ujarnya.
Afriansyah mendorong KSBSI menggunakan Rakernas sebagai ruang evaluasi organisasi sekaligus menyusun program kerja yang mampu menjawab tantangan ketenagakerjaan ke depan.
Ia menilai forum Rakernas memiliki arti penting karena digelar di tengah momentum 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kemerdekaan, kata dia, harus diisi dengan kerja nyata untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang maju, adil dan sejahtera. Dalam konteks ketenagakerjaan, hal itu diwujudkan melalui pekerjaan yang layak, perlindungan pekerja, peningkatan produktivitas dan kesempatan bagi pekerja untuk berkembang.
“Rakernas bukan sekadar agenda organisasi. Rakernas merupakan momentum untuk melakukan evaluasi secara objektif terhadap program yang telah berjalan, melihat tantangan yang dihadapi sekaligus menentukan arah dan prioritas program kerja ke depan,” jelasnya.
Ia berharap Rakernas KSBSI menghasilkan rekomendasi yang substantif, komprehensif dan solutif sebagai masukan bagi penyusunan kebijakan ketenagakerjaan nasional.
“Rakernas KSBSI hari ini memiliki dimensi waktu dan sejarah yang sangat krusial. Saya meminta secara khusus agar forum ini digunakan sebaik-baiknya untuk merumuskan usulan yang konstruktif,” tegas Afriansyah.
Pembukaan Rakernas kemudian dilanjutkan dengan rangkaian agenda organisasi KSBSI yang diikuti jajaran pengurus dan anggota dari berbagai wilayah di Indonesia.
Peliput: Raden




