BerandaKaltaraHadapi El Nino, Akademisi UBT Dorong Penanganan Karhutla Berbasis Risiko Lanskap

Hadapi El Nino, Akademisi UBT Dorong Penanganan Karhutla Berbasis Risiko Lanskap

DetailNews.id, Tarakan – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dinilai tidak cukup ditangani hanya dengan memadamkan api setelah kebakaran terjadi. Upaya pencegahan perlu dilakukan sejak dini dengan mengelola kondisi lanskap agar tidak mudah terbakar dan api tidak cepat menyebar.

Hal tersebut disampaikan Mohammad Wahyu Agang, S.Hut., M.P., dosen sekaligus Kepala Laboratorium Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan (UBT), Kamis (3/9/2026).

Wahyu yang juga memiliki latar belakang sebagai tenaga ahli lingkungan mengatakan, kondisi iklim seperti El Nino perlu menjadi perhatian serius karena dapat meningkatkan risiko kebakaran.

“Karhutla jangan hanya dilihat sebagai persoalan bagaimana memadamkan api, tetapi bagaimana mengelola kondisi lanskap agar api tidak mudah muncul dan menyebar,” ujarnya kepada DetailNews.id.

Menurutnya, dalam perspektif kehutanan, kebakaran dapat terjadi ketika terdapat tiga unsur penting, yakni bahan yang mudah terbakar, kondisi lingkungan yang mendukung, dan sumber penyulut.

Dalam kondisi El Nino faktor lingkungan menjadi semakin penting. Periode kering yang lebih panjang dapat menurunkan kadar air vegetasi. Serasah, semak dan material organik di permukaan tanah kemudian menjadi lebih kering sehingga lebih mudah terbakar.

Mohammad Wahyu Agang, S.Hut., M.P., dosen sekaligus Kepala Laboratorium Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan (UBT), saat berada di laboratorium Pertanian Nasional Taiwan. (Ft. Ist/Raden

“El Nino tidak menyalakan api. El Nino memperbesar risikonya. Api tetap membutuhkan sumber penyulut, tetapi dalam lanskap yang semakin kering, api kecil bisa jauh lebih cepat berkembang,” jelasnya.

Jangan Hanya Mengejar Api

Wahyu menilai pola penanganan karhutla perlu bergeser dari sekadar fire fighting menuju pengelolaan risiko kebakaran pada tingkat lanskap. Menurut dia, pemerintah dan pemangku kepentingan perlu memetakan kawasan yang memiliki akumulasi vegetasi kering tinggi, riwayat kebakaran berulang, akses yang sulit, keterbatasan sumber air, serta kawasan yang berdekatan dengan permukiman dan aktivitas masyarakat.

“Pertanyaannya jangan hanya bagaimana memadamkan api berikutnya, tetapi mengapa kawasan ini terus menyediakan kondisi yang memungkinkan api kembali terjadi,” katanya.

Untuk Kota Tarakan, pendekatan tersebut dinilai penting karena karakter kebakaran tidak sepenuhnya sama dengan kebakaran hutan di kawasan pedalaman Kalimantan.

Tarakan memiliki kombinasi kawasan berhutan, semak, lahan terbuka, kawasan peri-urban hingga wilayah yang berdekatan langsung dengan aktivitas masyarakat. Kondisi tersebut membuat strategi pencegahan harus disesuaikan dengan karakter masing-masing lokasi.

“Penanganannya harus berbasis karakter tapak, bukan satu resep untuk seluruh wilayah,” ujarnya.

Pada kawasan yang berulang kali terbakar, menurut Wahyu, perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi vegetasi, akses menuju lokasi, ketersediaan sumber air hingga kemungkinan pembuatan sekat pengendalian kebakaran.

Teknologi dan Peran Masyarakat

Pemanfaatan teknologi seperti pemantauan hotspot, citra satelit dan drone juga dinilai penting untuk memperkuat sistem deteksi dini.
Namun, Wahyu mengingatkan agar teknologi tidak berhenti sebatas menghasilkan data.

“Teknologi bukan tujuan. Teknologi harus membuat kita lebih cepat mengenali perubahan kondisi lanskap dan bertindak ketika api masih kecil,” katanya.

Di sisi lain, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan rawan kebakaran juga harus dilibatkan sebagai bagian dari solusi.
Petani dan masyarakat sekitar kawasan rawan, kata dia, dapat dilibatkan dalam deteksi dini, patroli, pengelolaan vegetasi serta penerapan alternatif pengelolaan lahan tanpa bakar yang secara ekonomi tetap memungkinkan dilakukan.

“Jadi menghadapi El Nino, kita perlu bergeser dari pola mengejar api menuju mengelola lanskap dan risiko kebakaran,” tegasnya.

El Nino merupakan fenomena iklim yang tidak dapat dikendalikan manusia. Namun, tingkat kerentanan suatu wilayah terhadap kebakaran dapat dikurangi melalui pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

“El Nino tidak bisa kita hentikan, tetapi kita bisa menentukan apakah lanskap kita dibiarkan semakin mudah terbakar atau dikelola agar lebih tahan terhadap kebakaran,” jelasnya.

Kebakaran Batubara, Ancaman yang Perlu Dikaji Lebih Dalam

Selain karhutla, Wahyu juga menyoroti fenomena kebakaran yang berkaitan dengan keberadaan lapisan atau singkapan batubara di wilayah Tarakan, khususnya kawasan Pantai Amal. Menurutnya, fenomena tersebut tidak seharusnya langsung disederhanakan sebagai kebakaran lahan biasa yang disebabkan oleh batubara bawah tanah.

Ia menilai hubungan antara kebakaran permukaan dan material batubara di bawah tanah bisa jauh lebih kompleks. “Kita jangan langsung melihat batubara bawah tanah hanya sebagai penyebab kebakaran lahan. Bisa jadi hubungan keduanya lebih kompleks,” terangnya.

Kebakaran yang awalnya terjadi di permukaan dapat berinteraksi dengan singkapan atau lapisan batubara. Dalam kondisi tertentu, material batubara yang telah mengalami pemanasan dapat terus membara sehingga persoalan berubah menjadi kebakaran bawah tanah yang jauh lebih sulit ditangani.

Secara ilmiah, batubara dapat mengalami pemanasan melalui proses oksidasi ketika bertemu oksigen dalam kondisi tertentu. Namun, untuk memastikan mekanisme pada kasus tertentu di Tarakan, diperlukan kajian lebih lanjut yang melibatkan aspek geologi dan pertambangan.

“Untuk memastikan apakah kejadian spesifik di Tarakan berasal dari pembakaran spontan, terpicu kebakaran permukaan, atau kombinasi keduanya, tetap diperlukan kajian geologi dan pertambangan di lokasi. Jadi kita jangan terlalu cepat menyimpulkan mekanismenya,” tambahnya.

Jika api telah masuk ke lapisan batubara, penanganannya juga berbeda dengan kebakaran semak atau vegetasi di permukaan. Api dapat bertahan di bawah permukaan dan menyebar melalui lapisan tertentu. Pembakaran material juga berpotensi meninggalkan rongga di bawah tanah.

Karena itu, risikonya bukan hanya asap dan api, tetapi juga kemungkinan terjadinya penurunan atau amblasnya permukaan tanah hingga berdampak terhadap infrastruktur.

Tarakan Dinilai Perlu Peta Risiko Kebakaran Batubara

Wahyu menyarankan agar kasus kebakaran di kawasan yang memiliki potensi batubara dangkal mulai dipandang sebagai bahaya geo-ekologis. Artinya, persoalan tidak hanya dilihat dari aspek karhutla, tetapi juga sebagai interaksi antara kondisi geologi bawah tanah, vegetasi, cuaca, penggunaan lahan dan keberadaan infrastruktur di permukaan.

“Kasus Pantai Amal seharusnya mulai diperlakukan bukan semata-mata sebagai isu karhutla, tetapi sebagai bahaya geo-ekologis,” bebernya.

Karena itu, menurut dia, Tarakan membutuhkan pemetaan kawasan yang memiliki lapisan atau singkapan batubara dangkal, termasuk lokasi yang pernah mengalami kebakaran. Pemetaan tersebut juga perlu mempertimbangkan lokasi yang berdekatan dengan jalan, permukiman, kampus, fasilitas publik maupun kawasan aktivitas masyarakat.

“Dengan kata lain, kita membutuhkan peta risiko kebakaran batubara bawah tanah, kemudian peta tersebut digunakan dalam penataan ruang, pembangunan jalan, mitigasi karhutla dan perlindungan masyarakat,” katanya.

Pemahaman terhadap kondisi bawah tanah menjadi bagian penting dalam mitigasi jangka panjang. “Jangan sampai kita terus memperbaiki apa yang terjadi di atas permukaan, tetapi tidak pernah benar-benar memahami apa yang sedang berlangsung di bawahnya,” pungkasnya.

Peliput: Raden

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments