
Enrekang- Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kabupaten Enrekang menyoroti persoalan ketersediaan energi di Kabupaten Enrekang. Kelangkaan BBM, sulitnya mendapatkan LPG 3 kilogram, hingga pemadaman listrik bergilir dinilai mulai membebani masyarakat dan pelaku usaha kecil.
Ketua PC PMII Enrekang mengatakan kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Menurutnya, persoalan pasokan energi tidak hanya berdampak pada kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menghambat aktivitas ekonomi masyarakat.
Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan BBM jenis Pertalite dan Solar disebut terjadi di SPBU Kabupaten Enrekang . Di sisi lain, masyarakat juga disebut kesulitan memperoleh LPG 3 kg.
Hafis menyebut kondisi Enrekang yang hanya memiliki satu SPPU menambang pesoalanan sekarang belum lagi kelangkaan tabung LPG gas 3 kg di tingkat pengecer bahkan mencapai Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per tabung. Kondisi itu dinilai semakin menyulitkan masyarakat kecil dan pelaku UMKM yang mengandalkan gas dan BBM bersubsidi untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kondisi ini sangat sulit Kota Enrekang hanya memiliki satu SPBU, belum lagi kadang pertalita hanya masuk sekali sehari ini membuat antrean panjang di sepanjang jalan di Kota Enrekang” kata hafis kepada awak media.
PMII Enrekang menduga persoalan tersebut tidak terlepas dari lemahnya pengawasan distribusi energi. Karena itu, mereka meminta aparat penegak hukum turun langsung untuk memastikan tidak terjadi penimbunan BBM bersubsidi maupun penyimpangan dalam distribusi LPG 3 kg.
PC PMII Kabupaten Enrekang mendesak Polres Enrekang membentuk tim khusus bersama instansi terkait untuk melakukan pengawasan dan penindakan terhadap pihak yang terbukti melakukan pelanggaran.
Selain BBM dan LPG, Hafis turut menyoroti pemadaman listrik bergilir yang disebut ikut mengganggu produktivitas masyarakat. Mereka meminta PLN UPL Enrekang memberikan penjelasan terbuka mengenai kondisi pasokan listrik dan langkah yang dilakukan untuk mengembalikan pelayanan secara normal.
PMII Enrekang juga meminta Bupati dan DPRD segera mengambil Langkah cepat untuk memberikan Solusi terkait masalah tersebut sebab Kelangkaan BBM dan Gas Elpiji yang membuat kegeisahan, merupakan persoalan serius yang tidak boleh dianggap sebagai masalah biasa.
Masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM. Aktivitas ekonomi terganggu, biaya dan waktu terbuang, sementara sampai saat ini masyarakat masih harus bertanya-tanya: sampai kapan kondisi seperti ini dibiarkan, dan kemana harus mengadu..?
Persoalan tersebut seharusnya menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kabupaten Enrekang dan DPRD Kabupaten Enrekang untuk menjalankan fungsi pelayanan dan pengawasan secara nyata untuk memberi solusi atas problem tersebut, kata Ketua Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Enrekang,
PC PMII Kabupaten Enrekang menyatakan akan terus mengawal persoalan tersebut. Jika tuntutan mereka tidak mendapat respons konkret, PMII mengancam akan mengonsolidasikan kader di tingkat komisariat dan rayon untuk menggelar aksi massa dengan jumlah yang lebih besar.




