BerandaBolmongPengembangan hingga 2028, Pengelolaan Lingkungan dan Pemerataan Manfaat Jadi Agenda Bersama JRBM,...

Pengembangan hingga 2028, Pengelolaan Lingkungan dan Pemerataan Manfaat Jadi Agenda Bersama JRBM, Pemerintah dan Masyarakat

DetailNews.id, Kotamobagu – Rencana pengembangan pertambangan emas PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM) di Blok Bakan hingga 2028 mendapat respons positif sekaligus sejumlah masukan dari pemerintah, DPRD, masyarakat dan pemangku kepentingan dalam rapat lanjutan pembahasan Addendum ANDAL dan RKL-RPL Tipe A di Ballroom Sutanraja Hotel Kotamobagu, 11 Agustus 2026.

Kepala Teknik Tambang (KTT) JRBM Demang Rangga Barata menjelaskan, perpanjangan umur tambang dari 2026 menjadi 2028 berkaitan dengan penambahan sumber daya dan cadangan serta revisi tekno-ekonomi. Pengembangan mencakup Pit Gunung Botak seluas 5,32 hektare dan Pit Villa, dengan produksi emas maksimum disesuaikan dari 119 koz menjadi 85,48 koz per tahun.

Bupati Bolaang Mongondow Yusra Alhabsyi menyambut baik rencana tersebut dan menilai persoalan lingkungan, termasuk banjir, dapat diantisipasi melalui kerja sama dan koordinasi intensif antara perusahaan dan pemerintah. Dari Bolaang Mongondow Selatan, Bupati Iskandar Kamaru meminta hubungan setiap titik kegiatan dengan sistem sungai dijelaskan secara rinci, termasuk arah aliran dan potensi dampaknya.

Dari DPRD, Wakil Ketua DPRD Bolmong Febrianto Tangahu menekankan agar langkah mitigasi, khususnya terkait air dan sedimentasi, benar-benar dilaksanakan. Sementara Ketua DPRD Bolsel Arifin Olii berharap keberadaan JRBM memberikan manfaat yang seimbang bagi masyarakat kedua kabupaten, termasuk melalui kesempatan kerja dan pemberdayaan masyarakat.

Masukan teknis pemerintah daerah juga mengemuka. Kepala DLH Bolmong Aldy Pudul meminta kajian hidrologi, drainase dan sediment pond diperkuat, sementara Dinas PU Bolmong melalui Hendra Hamim menekankan perlunya memastikan keberlanjutan sumber air masyarakat di sekitar rencana pengembangan. Dari Bolsel, Kepala DLH Nasrudin Gobel berharap komunikasi antara masyarakat, pemerintah dan perusahaan terus dilakukan secara berkala.

Dari masyarakat, Camat Lolayan/Pjs Sangadi Desa Bakan Ip Lingotu menyampaikan kondisi banjir yang masih menjadi perhatian di Desa Bakan serta kebutuhan penanganan infrastruktur, termasuk jembatan. Sebaliknya, Camat Pinolosian Tengah Indrajaya Mokoagow menyampaikan apresiasi atas normalisasi sungai dan penyediaan air bersih yang telah dilakukan JRBM.

Wakil Ketua BPD Desa Matali Baru Rasi Bara menilai keberadaan JRBM memberikan manfaat melalui lapangan kerja dan program pemberdayaan, khususnya pengembangan kakao. Ia berharap program produktif seperti kakao, durian dan alpukat terus dikembangkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.

Sementara itu, dari unsur LSM, Sehan Ambaru dari Insan Totabuan mendorong penguatan pengawasan lingkungan secara berkala dan berbasis data, sekaligus memastikan program pemberdayaan masyarakat memberikan dampak berkelanjutan.

Dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Ronal Rumagit dari Dinas ESDM mendorong penerapan good mining practice, peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal melalui transfer pengetahuan serta penyelarasan program PPM dengan pemerintah daerah. Sementara Nolly Rantung dari DLH Sulut menekankan penanganan PETI serta perlunya memasukkan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dalam RKL-RPL.

Menanggapi seluruh masukan tersebut, General Manager External Relations and Security JRBM Andreas Saragih menyampaikan apresiasi dan memastikan pandangan seluruh pihak menjadi perhatian serius perusahaan. Ia menegaskan, pengembangan JRBM tidak hanya berpotensi meningkatkan serapan tenaga kerja, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat kemandirian masyarakat melalui berbagai program PPM.

Secara teknis, tim konsultan JRBM yang dipimpin Yudi Agustian menempatkan aspek hidrologi, geoteknik dan pengelolaan lingkungan sebagai satu kesatuan. Rencana pengembangan mencakup bukaan lahan baru 75,38 hektare, total bukaan akhir sekitar 640,72 hektare dan rencana reklamasi 615,65 hektare. Sekitar 80 persen tenaga kerja JRBM disebut berasal dari tenaga kerja lokal, sementara program PPM diarahkan pada penguatan kemandirian ekonomi masyarakat.

Rangkaian pembahasan tersebut akhirnya menyepakati rencana pengembangan JRBM hingga 2028 tidak hanya berorientasi pada keberlanjutan operasi, tetapi juga pada penguatan pengelolaan lingkungan, peningkatan manfaat ekonomi masyarakat, penggunaan tenaga kerja lokal, serta koordinasi yang lebih erat antara perusahaan, pemerintah dan masyarakat di Bolaang Mongondow dan Bolaang Mongondow Selatan.

Peliput : Dayat

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments